Terapi HIV

Orang kalau sudah mendengar HIV, bulu kuduknya langsung mrinding…Kalau dokter, Apoteker, Perawat dan Psikolog mempunyai perasaan seperti tersebut lalu siapa yang akan memberika terapi penderita HIV..? Untuk itu kami hadirkan tentang HIV HIV adalah virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia.

HIV termasuk golongan retrovirus, yang berarti virus yang menggunakan sel tubuhnya sendiri untuk memproduksi kembali dirinya. Saat ini terdapat dua jenis HIV, yaitu HIV–1 dan HIV–2. HIV–1 mendominasi seluruh dunia dan bermutasi dengan sangat mudah, ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1984. HIV–2 teridentifikasi pada tahun 1986 dan semula merata di Afrika Barat. Terdapat banyak kemiripan diantara HIV–1 dan HIV–2, contohnya adalah bahwa keduanya menular dengan cara yang sama, keduanya dihubungkan dengan infeksi-infeksi oportunistik dan AIDS yang serupa, namun pada HIV-2 biasanya masa inkubasinya lebih lama (Anonim. 2005: 2-9).
AIDS adalah fase terakhir dari infeksi HIV dan biasanya dicirikan oleh jumlah sel CD4+ < 200/mm³. AIDS jarang sekali terdiri dari satu penyakit saja tetapi terdiri dari sebuah kumpulan atau kombinasi berbagai macam penyakit yang muncul karena tubuhnya tidak dapat melawan penyakit lagi. Pada saat darah terinfeksi virus HIV maka sistem imun diserang dan dirusak dengan perlahan-lahan sehingga tidak dapat melawan infeksi dan penyakit biasa lagi. Setelah melewati waktu tertentu (biasanya bertahun-tahun), sistem imun tubuh akan melemah. Hanya seorang HIV positif yang didiagnosa dengan satu atau lebih penyakit dapat dikatakan menderita AIDS (Suharto, 2005).
5. Cara Penularan HIV
HIV terdapat dalam cairan tubuh yaitu, darah, sperma, cairan vagina dan air susu ibu. HIV hanya ditularkan kalau cairan tubuh seseorang HIV positif masuk ke dalam aliran darah orang lain. Komisi Penanggulanggan AIDS (KPA) Daerah Kabupaten Banyumas (Anonim, 20074: 9) menyebutkan bahwa HIV hanya dapat ditularkan melalui beberapa cara yaitu:
a. Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi.
b. Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril.
c. Penggunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi.
d. Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui.
6. Penanggulangan HIV/AIDS
KPA Nasional (Anonim. 20072: 17) menentukan area prioritas penanggulangan HIV dan AIDS untuk tahun 2007-2010 adalah sebagai berikut:
a. Pencegahan HIV dan AIDS
b. Perawatan, pengobatan dan dukungan kepada ODHA
c. Surveilans HIV dan AIDS serta infeksi menular seksual
d. Penelitian dan riset operasional
e. Lingkungan kondusif
f. Koordinasi dan harmonisasi multipihak
g. Kesinambungan penanggulangan.

B. Terapi Antiretroviral (ART).
1. Tujuan ART
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Anonim, 2004: 6), tujuan ART meliputi:
a. Mengurangi laju penularan HIV di masyarakat
b. Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV
c. Memperbaiki kualitas hidup ODHA
d. Memulihkan dan/atau memelihara fungsi kekebalan tubuh
e. Menekan replikasi virus secara maksimal dan secara terus menerus.
2. Pengetahuan Dasar Penggunaan ART
Replikasi HIV sangat cepat dan terus menerus sejak awal infeksi. Sedikitnya terbentuk sepuluh miliar virus setiap hari, namun karena waktu paruh (half-life) virus bebas (virion) sangat singkat maka sebagian besar virus akan mati. Walaupun ada replikasi yang cepat sebagian pasien merasa tetap sehat tanpa ART selama sistem kekebalan tubuhnya masih berfungsi baik. Replikasi HIV yang terus-menerus mengakibatkan kerusakan sistem kekebalan tubuh semakin berat, sehingga semakin rentan terhadap infeksi oportunistik (IO), kanker, penyakit saraf, kehilangan berat badan secara nyata (wasting) dan berakhir dengan kematian (Anonim, 2004: 6).
Viral load menunjukkan tingginya replikasi HIV, sedangkan penurunan CD4+ menunjukkan tingkat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Pemeriksaan secara berkala jumlah CD4+ dapat menentukan progresivitas penyakit dan mengetahui saat yang tepat untuk memulai atau mengubah rejimen ART (Anonim. 2004:6).
Tingkat progresivitas penyakit pada ODHA dapat berbeda-beda. Keputusan pengobatan harus berdasarkan pertimbangan individual dengan memperhatikan gejala klinis, hitung limfosit total dan bila memungkinkan jumlah CD4+ (Anonim, 2004: 7).
Resistensi dapat dihindari dengan cara memakai ART terus-menerus dengan kepatuhan (adherence) yang sangat tinggi, walaupun sering dijumpai efek samping ringan. Pemberian ART harus dipersiapkan secara baik dan matang dan harus digunakan seumur hidup dan bila dijumpai infeksi oportunistik maka harus segera diobati (Anonim, 2004: 7,8).
3. Indikasi ART
Indikasi pemberian ART menurut WHO (Anonim. 2004:12). ODHA dewasa seharusnya segera mulai ART manakala infeksi HIV telah ditegakkan secara laboratoris disertai salah satu kondisi di bawah ini :

a. Secara klinis sebagai penyakit tahap lanjut dari infeksi HIV
– Infeksi HIV stadium IV, tanpa memandang jumlah CD4+
– Infeksi HIV stadium III dengan jumlah CD4+ < 350/mm³
b. Infeksi HIV Stadium I atau II menurut kriteria WHO dengan jumlah CD4+ <200/mm3 atau jumlah limfosit total <1200/mm3
ART untuk penyakit Stadium IV (kriteria WHO disebut AIDS klinis) tidak seharusnya tergantung pada jumlah CD4+. Untuk Stadium III, bila tersedia sarana pemeriksaan CD4+ akan membantu untuk menentukan saat pemberian terapi yang lebih tepat. Kondisi Stadium III terpilih dengan nilai ambang 350/mm3 karena pada nilai di bawahnya biasanya kondisi pasien mulai menunjukkan perkembangan penyakit yang cepat memburuk dan sesuai dengan pedoman yang ada. Pasien dalam stadium I atau II, maka jumlah CD4+ <200/mm3 merupakan indikasi pemberian terapi. Apabila tidak ada sarana pemeriksaan CD4+, maka yang digunakan sebagai indikator pemberian terapi pada infeksi HIV simtomatik adalah jumlah limfosit total 1200/mm3 atau kurang (Anonim, 2004:12).
Tabel 1 Indikasi Pemberian ART pada ODHA dewasa
Bila tersedia pemeriksaan CD4+ Bila tidak tersedia sarana pemeriksaan CD4+
Stadium IV WHO, tanpa memandang jumlah sel CD4+ Stadium IV WHO, tanpa memandang jumlah limfosit total
Stadium III WHO, dengan jumlah sel CD4+ <350/mm3 sebagai petunjuk dalam mengambil keputusan Stadium III WHO, tanpa memandang jumlah limfosit total
Stadium I atau II WHO dengan jumlah sel CD4+ <200/mm3 Stadium II WHO dengan jumlah limfosit total <1200/mm3
(Anonim. 2004:13)

4. Obat Antiretroviral
Cara paling efektif untuk menekan replikasi HIV secara terus menerus adalah memulai pengobatan dengan kombinasi ARV yang efektif. Terapi kombinasi ARV harus menggunakan dosis dan jadwal yang tepat, adapun nama obat dan dosisnya dapat dilihat pada tabel.

Tabel 2 Dosis Antiretroviral untuk ODHA
Golongan/ Nama Obat Dosis
Nucleoside RTI
Abacavir (ABC) 300 mg setiap 12 jam
400 mg sekali sehari
Didanosine (ddI) (250 mg sekali sehari bila BB <60 kg)
(250 mg sekali sehari bila diberikan bersama TDF)
Lamivudine (3TC) 150 mg setiap 12 jam atau 300 mg sekali sehari
Stavudine (d4T) 40 mg setiap 12 jam
(30 mg setiap 12 jam bila BB<60 kg)
Zidovudine (ZDV/AZT) 300 mg setiap 12 jam
Nucleotide RTI
Tenofovir (TDF) 300 mg sekali sehari
Non-nucleoside RTIs
Efavirenz (EFV) 600 mg sekali sehari
Nevirapine (NVP) 200 mg sekali sehari selama 14 hari, kemudian 200 mg setiap 12 jam
Protease inhibitors
Indinavir/ritonavir (IDV/r) 800 mg/100 mg setiap 12 jam
Lopinavir/ritonavir (LPV/r) 400 mg/100 mg setiap 12 jam, (533mg/133 mg setiap 12 jam bila dikombinasi dengan EFV atau NVP)
Nelfinavir (NFV) 1250 mg setiap 12 jam
Saquinavir/ ritonavir
(SQV/r) 1000 mg/100 mg setiap 12 jam atau 1600 mg/200 mg sekali sehari
Ritonavir (RTV, r) Kapsul 100 mg, larutan oral 400 mg/5ml
(Anonim. 2004: 15)
a. Jenis Obat ARV
1) Reverse transcriptase inhibitors (RTIs):
a) Golongan nucleoside RT inhibitors (Nukes), menghalangi pembentukan reverse transcriptase sehingga tidak terjadi pembentukan yang sempurna dari RNA virus menjadi DNA.
Contoh obat : ZDV, 3TC, d4T, ABC, ddl
b) Golongan non-nucleoside RT inhibitors atau Non-Nukes, mengikat reverse transcriptase sehingga tidak berfungsi.
Contoh : EVP, NVP
2) Protease inhibitors (PIs): menghalangi kerja enzim protease yang berfungsi memotong DNA yang dibentuk oleh virus dengan ukuran yang benar untuk memproduksi virus baru.
Contoh : IDV, NFV, SQV, RTV
3) Integrase inhibitors: menghalangi kerja enzim integrase yang berfungsi merakit potongan-potongan DNA untuk membentuk turunan virus baru. Obat ini masih dalam penelitian.
4) Attachment inhibitors (mencegah perlekatan virus pada sel yang diinfeksi) dan fusion inhibitors (mencegah fusi/penggabungan membran virus dengan membran sel yang diinfeksi) adalah obat baru yang sedang diteliti pada manusia.
5) Obat antisense: merupakan “bayangan cermin” kode genetik HIV yang mengikat virus untuk mencegah fungsinya (dalam percobaan).
6) Perangsang imunitas (Immune stimulators): menggunakan kurir (messenger) kimia untuk merangsang respon imun tubuh, termasuk Interleukin-2, semuanya masih dalam penelitian.
b. Cara Kerja Obat-Obat ARV
Obat-obat ARV mempunyai target yang berbeda pada siklus replikasi HIV yaitu:
1) Entry (saat masuk). HIV harus masuk ke dalam sel T untuk dapat mulai kerjanya yang merusak. Mula-mula melekatkan diri pada sel, kemudian menyatukan membran luarnya dengan membran luar sel.
Contoh obat: masih dalam penelitian pada manusia.
2) Early replication (replikasi dini). Sifat HIV adalah mengambil alih mesin genetik sel T. Setelah bergabung dengan sebuah sel, virus HIV menaburkan bahan-bahan genetiknya ke dalam sel. Di sini HIV memiliki masalah, dengan kode genetiknya yang tertulis dalam bentuk yang disebut RNA. Sedangkan pada manusia, kode genetik tertulis dalam DNA. HIV memecahkan masalah ini dengan membuat enzim yang disebut reverse transcriptase atau RT yang menyalin RNAnya ke dalam DNA.
Contoh obat: – gol Nukes adalah ZDV, 3TC, ABC
– gol Non Nukes adalah EVP, NVP.
3) Late replication (replikasi lanjut). HIV harus menggunting-gunting DNA sel, memasukkan DNAnya sendiri ke dalam guntingan-guntingan tersebut, dan menyambung kembali helaian DNA tersebut. Alat/kit penyambung tersebut memerlukan apa yang disebut integrase.
Contoh obat: masih dalam penelitian pada manusia.
4) Assembly (perakitan/penyatuan). Begitu HIV mengambil alih bahan-bahan genetik sel, sel diatur untuk membuat potongan-potongan sebagai bahan untuk membuat virus baru. Potongan-potongan ini harus dipotong dalam ukuran yang benar yang dilakukan oleh enzim protease HIV
Contoh obat: IDV, NFV, SQV, RTV (Anonim. 2005).
c. Efektivitas Obat ARV kombinasi:
Tiga alasan penting penggunaan obat ARV dalam bentuk kombinasi:
1) Lebih efektif, oleh karena mempunyai khasiat ARV yang lebih tinggi dan menurunkan jumlah viral load yang lebih tinggi pula, dibandingkan dengan hanya satu jenis obat saja.
2) Kemungkinan terjadinya resistensi virus lebih kecil. Bila terjadi resistensi, obat akan menjadi kurang efektif. Satu alasan untuk melakukan pemeriksaan viral load adalah untuk meyakinkan bahwa resistensi tidak terjadi. Dengan menggunakan satu jenis obat (obat tunggal) resistensi bisa terjadi cukup cepat. Hal ini telah terbukti untuk semua jenis obat antiviral yang telah diteliti selama ini. Banyak ODHA telah menggunakan kombinasi tiga jenis obat tanpa menimbulkan resistensi sampai waktu tertentu. Akan tetapi, bila lupa minum obat dapat menimbulkan terjadinya resistensi. Kemungkinan terjadinya resistensi jauh berkurang bila ODHA minum obat dengan teratur dan sesuai aturan.
3) Kombinasi menyebabkan dosis masing-masing obat lebih kecil, sehingga kemungkinan efek samping lebih kecil ( Anonim, 2006).
d. Dasar Pemilihan Rejimen
Faktor yang harus diperhatikan dalam memilih rejimen ART baik di tingkat program ataupun di tingkat individual adalah:
1) efikasi obat
2) profil efek-samping obat
3) persyaratan pemantauan laboratorium
4) kemungkinan kesinambungannya sebagai pilihan obat di masa depan
5) antisipasi kepatuhan oleh pasien
6) kondisi penyakit penyerta (kelainan metabolik)
7) kehamilan dan resikonya
8) penggunaan obat lain secara bersamaan (potensi terjadinya interaksi obat)
9) infeksi galur (strain) virus lain yang potensial meningkatkan resistensi terhadap satu atau lebih ARV, termasuk ARV lain yang diberikan sebelumnya sebagai profilaksis atau terapi
10) ketersediaan dan harga ARV (Anonim, 2004: 14).
5. Efektivitas pengobatan ARV terhadap peningkatan jumlah sel CD4+
Penilaian efektivitas pengobatan antiretroviral atau terapi antiretroviral (ART) yang diberikan pada penderita HIV/AIDS dapat dilakukan dengan cara monitoring klinis dan laboratorium. Efektivitas monitoring klinis meliputi monitoring efektivitas pengobatan dan toksisitas, sedangkan monitoring laboratorium mengenai efektivitas ART pada saat ini terbatas pada pemeriksaan jumlah CD4+.
Pemeriksaan jumlah sel CD4+ dilakukan minimal setiap 6 bulan. Masa 6 bulan pertama pada ART merupakan saat yang sangat penting, dimana terlihat kemajuan klinis maupun imunologis sebagai manifestasinya yaitu terjadi rekonstitusi dan repopulasi sel CD4+ pada jaringan limfoid serta penekanan terhadap replikasi virus. Jumlah sel CD4+ diharapkan meningkat pada awal pemberiaan terapi dan imun recovery. Peningkatan jumlah sel CD4+ mencapai puncaknya pada 6 bulan pertama terapi dan kemudian turun secara bertahap (Erb et al., 2000)
Terjadinya peningkatan jumlah sel CD4+ pada penderita HIV/AIDS berarti bahwa fungsi kekebalan tubuh juga meningkat, hal ini sekaligus mendukung tercapainya tujuan pengobatan ARV yaitu memperbaiki kualitas hidup ODHA.
Menurut Adam (2007), perubahan CD4+ yang diharapkan selama menggunakan ARV adalah:
a. Peningkatan rata-rata CD4+ 100-200 sel/mm³ dalam tahun pertama.
b. Peningkatan rata-rata CD4+ 100 sel/mm³ dalam tahun berikutnya.
6. CD4+
Limfosit Cluster Differentition 4 (CD4+) merupakan target utama infeksi HIV karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4+. Limfosit CD4+ bertugas mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif. Setelah seseorang lama terinfeksi HIV, jumlah sel CD4+ nya semakin menurun, ini tanda bahwa sistem kekebalan tubuh semakin rusak. (Sudoyo et al, 2006: 1826).
7. Pemeriksaan laboratorium:
– Limfosit total atau CD4+.
– Pemeriksaan darah lengkap (terutama Hb) dan kimia darah (terutama fungsi hati)dan fungsi ginjal.
– Pemerilsaan kehamilan (Anonim. 2004: 11).
8. Infeksi Oportunistik (IO)
Adalah infeksi yang mncul akibat lemahnya sistem pertahanan tubuh yang telah terinfeksi HIV. Pada orang yang sistem kekebalan tubunhya masih baik infeksi ini mungkin tidak berbahaya, namun pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah bisa menyebabakan kematian.
Bila pengidap HIV ternyata mengalami IO, mungkin HIV telah berkembang menjadi AIDS. Dijumpai satu atau lebih IO resmi sesuai definisi Depkes pada penderita HIV, sudah dapat dikatakan AIDS ( Anonim. 20072).

Satu Tanggapan to “Terapi HIV”

  1. nasruddin sid yusuf Says:

    saya mau tau lebih tentang hiv aids…tolong bantuannya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: