KIAT SUKSES DI USIA MENJELANG LANSIA

KIAT 3

Ini adalah cuplikan salah satu BAB dari Buku kedua saya yang akan selesai. Untuk itu, para pembaca Blog Din.Kes Banyumas untuk mencermati dan bila perlu tambahan pengalaman anda dalam menjaga kesuksesan di usia menjelang Lansia.
BAB SEPAH ATAU SEPUH
“Kami semua yang sudah manula atau lansia berusia di atas 60-an tahun (saat kumpul-kumpul agar tidak sepi sendiri), berbincang-bincang ke utara selatan (ngalor-ngidul), mengenai berbagai hal. Terutama sekali agar tetap bugar dan masih bisa berkiprah, menyumbangkan pemikiran dan pengalaman untuk kemaslahatan masyarakat” ini obrolan
Mbah-mbah di trotoar Masjid bersama “Cucunya
Jangan sampai Senior Citizen dimasukkan dalam kelompok askar tak berguna, hanya bisa hentak-hentak bumi alias jalan di tempat menjadi beban bagi masyarakat (jadi sepah bisa bagai sampah dibuang !).
Bila sampai begitu, lansia (lanjut usia) kan jadi tidak beda dari sialan (usia lanjut). Pak Ahmad Darodji pun menghindari istilah manula, lansia atau sialan, lebih senang menggunakan kata SEPUH yang merupakan akronim dari sarwa eling pikantuk umur harum. Lazimnya para sepuh, sesepuh lan pinisepuh itu kan sumeleh, emot, pitutur, uwur, hidayah. Lebih mengutamakan jeneng atau nama baik, ketimbang jenang atau kekayaan, jeneng atau nama masyhur.
Paguyuban para sepuh itu diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk mencegah kesepian, mengatasi sindrom pascakuasa, namun juga yang tidak kalah penting adalah menularkan segala kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Siapa tahu bisa ikut urun rembug memecahkan masalah bangsa atau mencarikan alternatif jalan keluar dari aneka macam kemelut. Sesudah purnatugas, kerjaannya tidak terbatas jadi MC (momong cucu). Dan tidak kalah penting adalah bantuan para Askar Tetap berguna dalam wujud do’a, restu dan pangestu yang tak kenal henti dan amat dibutuhkan oleh bangsa yang masih selalu dirundung malang ini.
Saya ingat petuah agama : Khairunnas anfauhum linnas yang kurang lebih berarti : sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi ummat. Para sepuh yang sudah berkepala 60, 70, 80 itu masih sehat dan bersemangat. Padahal belakangan ini kaum kawula muda yang baru berusia 40-an dan 50-an sudah banyak yang terkena stroke, serangan jantung, gagal ginjal dan berbagai penyakit lain, atau Stres berat. Coba kita renungkan puisi yang saya peroleh lewat pesan pendek berikut ini :
“Orang yang tuna rungu berangan-angan ingin mendengarkan musik yang merdu/ Orang yang tuna netra berangan-angan ingin menyaksikan dunia yang indah/ Orang yang tuna wicara berangan-angan ingin mengucapkan beberapa kata/ Orang yang tuna daksa berangan-angan ingin bisa berjalan walau hanya beberapa langkah/ Namun kita yang masih bisa mendengar, melihat, bicara dan berjalan/ sering kurang bisa mensyukuri karunia Allah swt. yang luar biasa itu.
“Tatkala kami diterima oleh Pak Mardianto, Mendagri yang dulu adalah Gubernur Jawa Tengah dua periode, menyampaikan berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini. Antara lain tentang demokrasi yang kebablasan, kemelunturan tata karma dan kesantunan munculnya tokoh-tokoh karbitan yang merasa layak jadi pemimpin. Kami mengusulkan agar dalam pemilihan pemimpin baik dalam skala nasional,- regional maupun lokal ada persyaratan tentang kompetensi, kemampuan, pengalaman kepemimpinan. Ada rekam jejak atau track record, tidak instant. Zaman doeloe pun sebelum jadi bupati mesti melewati jenjang mulai dari Camat, Wedana, Patih. Tidak ujug-ujug. Bayangkan, konon seorang pelawak terkenal sudah dilamar untuk jadi calon Walikota/ Pejabat Tinggi Daerah.
PARA sepuh, sesepuh, pinisepuh, pasti ngelus dada melihat deretan baliho, spanduk, poster kampanye di sepanjang jalan yang penuh dengan slogan-slogan bombastis. Bisa juga lantas tertawa kecut.
Saya ambil beberapa contoh saja : “Pilihlah kami yang selalu memperjuangkan penurunan BBM”, “Rakyat tidak boleh melarat, biarlah kami pemimpin yang melarat”, “Monggo milih kula, sing bakale ngawula”, (pilihlah saya yang bersedia mengabdi rakyat).
Slogan-slogan tersebut kendati berbau kebohongan public namun masih lumayan karena masih menyangkut urusan duniawi. Tidak membawa-bawa agama atau memelintiri fatwa.
Coba renungkan kalimat berisi pesan yang disuguhkan oleh seorang kiai yang bernafsu menjadi seorang legislatif : “Dideleng ka’bahe, diclontreng jenenge”, “Liriklah ka’bah, pilihlah kami”. Weladalah, aduh, Ka’bah kok cuma dilihat dan dilirik, ujung-ujungnya hanya untuk mengarahkan umat memilih sang kiai.
Kita anggap saja itu semua sebagai dagelan politik, jangan dimasukkan ke hati, nanti malah rugi sendiri.
Akhirulkalam Liding dongeng para manula, lansia, sepuh, pinisepuh, mari bergandeng tangan jangan mau dianggap sebagai ‘Askar Tak Berguna’, tetaplah bertekad untuk berbuat sesuatu demi perbaikan keadaan agar rakyat selalu damai, sejahtera dan bahagia. (disadur dari Gayeng Semarang, Profesor Eko Budiharjo, Harian Suara Merdeka, 25 1 09, 28).
Pada usia menjelang lansia, umur 40 – 55 tahunan perlu kiat-kiat dan pelaksanaan yang komprehensif sehingga tetap sukses dan berguna hingga menjadi sesepuh yang mumpuni dan menjadi Sepah seperti sobekan dari kitab suci artinya seorang yang dalam so sialnya kalau dimasukan dalam Tim nyambung ayat-ayatnya, kalau dibuang oleh yang muda mereka merasa berdosa, atau di lem (sbg sesepuh)”nyrimpedi
Bagi Anda yang telah baca dengan selesai, maaf itu cuplikan calon buku saya…monggo, silahkah kirim saran, tambahan pengalaman dll untuk menjadi buku yang enak dibaca semua generasi.
Ronin Hidayat dan Marwan Ibnu Marhani

3 Tanggapan to “KIAT SUKSES DI USIA MENJELANG LANSIA”

  1. imam soebagio - jember Says:

    sebutan lansia itu diatur oleh UU. supaya orang bisa sampai lansia, maka sejak awal dan seterusnya memperhatikan dan melakukan olah raga, olah pikir, olah rasa dan olah pepangan. lansia dibagi dua yaitu lansia produktif dan lansia tidak produktif. sekiranya dibutuhkan, saya siap membantu penulis untuk menyiapkan tulisan mengenai lansia. saya adalah pengurus yayasan gerontologi abiyoso kabupaten jember dan pengurus forum kerjasama karang werda kabupaten jember serta pengasuh tabloid gema lansia. bisa via e-mail atau surat menyurat dengan alamat jl. semeru/N.3 jember 68121 atau fb : imam soebagio. trima kasih n merdeka !

  2. Fredy Kalbe Says:

    semakin nambah umur… semakin matang, pancen oyee

  3. edi hartono Says:

    seneng baca wejangan2, mugi poro lansia podo semangat berkiprah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: