Waspada Nyeri Dada, IMA

Warga pecinta Blog DinKes Banyumas, Kalau Anda atau tetangga yang pernah merasakan NYERI DADA seperti terhimpit, seperti terbakar, sesak dan seperti tertindih beban berat, WASPADALAH terhadap AMI/IMA (Akut Myicard Infark),
a. Pengertian
Infark Miokard Akut (AMI) adalah nekrosis miokard akibat gangguan aliran darah ke otot jantung (Mansjoer, 2002).
Menurut Soeparman & Waspadji (1990), IMA adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu.
Staffoeloh (1999) mendefinikan Infark miokard akut adalah kematian/nekrosis jaringan miokard akibat penurunan secara tiba-tiba aliran darah arteri koronaria ke jantung atau terjadinya peningkatan kebutuhan oksigen secara tiba-tiba tanpa perfusi arteri koronaria yang cukup.
b. Etiologi
Suparman (1990) menyatakan bahwa umumnya Infark Miokard Akut (IMA) didasari oleh adanya aterosklerosis pembuluh darah koroner. Nekrosis miokard akut, hampir selalu terjadi akibat penyumbatan total arteri koronaria oleh trombus yang terbentuk pada plaque aterosklerosis yang tidak stabil; juga sering mengikuti ruptur plaque pada arteri koroner dengan stenosis ringan (50-60%). Kerusakan miokard terjadi dari endokardium ke epikardium, menjadi komplit dan ireversibel dalam 3 – 4 jam. Meskipun nekrosis miokard sudah komplit, proses remodelling miokard yang mengalami injuri terus berlanjut sampai beberapa minggu atau bulan karena daerah infark meluas dan daerah non-infark mengalami dilatasi. Secara morfologis IMA dapat transmural atau sub-endokardial. IMA transmural mengenai seluruh dinding miokard dan terjadi pada daerah distribusi suatu arteri koroner. Sebaliknya pada IMA sub-endokardial, nekrosis hanya terjadi pada bagian dalam dinding ventrikel dan umumnya berupa bercak-bercak dan tidak konfluens seperti IMA transmural. IMA sub-endokardial dapat regional (terjadi pada distribusi satu arteri koroner) atau difus (terjadi pada distribusi lebih dari satu arteri koroner).
Infark Miokard Akut Subendokardial, yaitu daerah subendokardial merupakan daerah miokard yang amat peka terhadap iskemia dan infark. IMA subendokardial terjadi akibat aliran darah subendokardial yang relatif menurun dalam waktu yang lama sebagai akibat perubahan derajat penyempitan arteri koroner atau dicetuskan oleh kondisi-kondisi seperti hipotensi, perdarahan dan hipoksia. Derajat nekrosis dapat bertambah bila disertai peningkatan kebutuhan oksigen miokard, misalnya akibat takikardia atau hipertrofi ventrikel. Walaupun pada mulanya gambaran klinis dapat relatif ringan, kecenderungan iskemik dan infark lebih jauh merupakan ancaman besar setelah pasien dipulangkan dari rumah sakit. Sedangkan IMA Transmural, lebih dari 90 % pasien IMA transmural berkaitan dengan trombosis koroner. Trombosis sering terjadi di daerah yang mengalami penyempitan arteriosklerotik. Penyebab lain lebih jarang ditemukan. Termasuk disini misalnya perdarahan dalam plaque aterosklerotik dengan hematom intramural, spasme yang umunya terjadi di tempat aterosklerotik dan emboli koroner. AMI dapat terjadi walau pembuluh koroner normal, tetapi hal ini amat jarang.
c. Tanda / Gejala IMA
 Keluhan rasa tidak enak, sakit, rasa tertindih beban berat atau rasa tercekik, sifatnya khas meremukan, menekan, rasa terbakar, nyeri seperti terjepit.
 Nyeri berlangsung dalam jangka beberapa menit atau bervariasi, biasanya lebih dari 5 menit dan keluhan akan hilang timbul dan semakin berat/progresif. Nyeri bisa berlangsung setengah jam sampa beberapa jam atau lebih lama
 Lokasi bagian dada tengah, belakang tulang dada,. Nyeri khas retrosternal tetap dapat pula di prekordium atau lokasi lain, ada kecenderungan nyeri ditransmisi menjalar kebahu, punggung, bawah dagu dan ke lengan kiri
 Tubuh berkeringat, lemas, sesak nafas dan atau pinsan
 Pada beberapa kasus, infark miokard tdak disertai nyeri tetap lebih sering terdapat gejala yang diabaikan penderita atau dihubungkan dengan ”gas” atau keluhan nonspesifik gastrontestnal (Dardjat, 1992)
 Pada orang yang mempunyai beberapa faktor resiko koroner, keluhan sukar menelan harus dicurigai mengalami IMA. Sakit dada ( chest pain ) sering berhubungan dengan IMA, tetapi dari penelitian populasi usia lanjut, menunjukkan kira–kira 2/3 dari kejadian IMA tidak didahului oleh sakit dada.
 Perubahan EKG pada AMI :
Daerah iskemia : inversi gelombang T, karena perubahan repolarisasi
Daerah Luka : elevasi segmen ST, karena iskemia berat.
Daerah infark : gelombang Q abnormal/ patologis karena tidak ada depolarisasi pada jaringan mati/nekrosis
 Laboratorium
Peningkatan kadar enzim atau isoenzim merupakan indikator spesifik IMA. Pada AMI enzim–enzim intrasel ini dikeluarkan ke dalam aliran darah. Kadar total enzim – enzim ini mencerminkan luas IMA. Pemeriksaan yang berulang diperlukan apalagi bila diagnosis AMI diragukan atau untuk mendeteksi perluasan IMA. Enzim-enzim terpenting ialah kreatin fosfokinase atau aspartat amino transferase ( SGOT ), laktat dehidrogenase ( alfa-HBDH ), dan isoenzim CPK – MB ( CK-MB ). Berbeda dengan SGOT dan LDH, nilai CPK tidak dipengaruhi oleh adanya bendungan hati, sehingga lebih diagnostik untuk AMI.
 Pemeriksaan Enzim jantung, CPK-MB/CPK Isoenzim yang ditemukan pada otot jantung meningkat antara 4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam, kembali normal dalam 36-48 jam. LDH/HBDH meningkat dalam 12-24 jam dam memakan waktu lama untuk kembali normal
AST/SGOT. Meningkat ( kurang nyata/khusus ) terjadi dalam 6-12 jam, memuncak dalam 24 jam, kembali normal dalam 3 atau 4 hari.
d. P3K
– Tidurkan penderita dengan posisi semifowler atau duduk
– Tarik nafas hembuskan lewat mulut
– Buka pakaian yang melekat dada
– segera kirim ke IGD RS terdekat untuk mendapatkan penatalaksanaan IMA
Untuk di RS lakukan hal-hal sbb:
1. Tindakan Umum
 Istirahat total di tempat tidur sebaiknya dilakukan minimal 12 jam
 Mobiliisasi dini sangat dianjurkkan pada pasien dengan infark tanpa komplikasi, sementara pasien dengan hemodinamik tidak stabil memerlukan masa istirahat yang lebih lama
 Sedasi dapat diberikan
 Penggunaan bedside commode dan bedside washing umumnya aman
 Valsava maneuver / mengedan dapat menyebabkan gangguan hemodinamik dan elektrokardiografik yang berbahaya, terutama pada penderita usia muda, karena itu penggunaan laksan untuk mencegah konstipasi sangat dianjurkan
2. Monitoring
Keadaan umum, tanda-tanda vital, pulse oxsimetry dan EKG harus dimonitor secara kontinu untuk mengantisipasi komplikas
Obat-obat yang diperlukan sesuai dengan Protap Penangnan IMA (baca di Tata Laksana Sindroma Koroner Akut dengan ST-Elevasi, Pedoman Perhimpunan dokter spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI), 2004)
artikel ini sebagai bahan Anda yang sedang belajar di ilmu kesehatan atau sebagai informasi kesehatan.

2 Tanggapan to “Waspada Nyeri Dada, IMA”

  1. thanks yah atas infonya,,

  2. Terima kasih atas literature…untuk belajar saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: