PERGESERAN PARADIGMA PERAWAT

Pada hari Selasa, 23 Nopember 2010 merupakan awal kebangkitan  Perawat Komunitas di Wilayah Banyumas…mengapa merupakan har kebangkitan..? Jelas dan Fantastis dmana hari itu sebanyak 22 Perawat Komuntas se Banyumas di lantik sebagai Komite Perawat Komunitas yang merupakan yang pertama di Indonesia. Dan saat itu pula seluruh anggotanya komitmen untuk menggeser paradigma yanag selama ini pasif dalam disastion support (pendukung Keputusan Kebijakan Kesehatan Kabupaten). Melalui seminar berasa workshop “Penciptaan Kekayaan Organisasi Perawat Komunitas dalam peran pembangunan kesehatan “. Dalam seminar tersebut d bahas tentang”PERGESERAN PARADIGMA PERAWAT KOMUNITAS DALAM PENDESAINAN ORGANISASI PENYEMPURNAAN  SISTEM PELAYANAN KESEHATAN”.

 

dalam pernagatn HKN ke -46 Th 2010. Adapun materinya yang disamponin Hidayat, M.Kes, sebagai berikut :

  1. A. Pendahuluan

Dalam organisasi kesehatan pada umumnya, sering kita jumpai seseorang yang memegang  posisi kepemimpinan tidak menghasilkan kinerja bagi organisasi yang dipimpinnya. Timbul pertanyaan, “Sebenarnya kinerja macam apa yang dharapkan oleh Pemimpin ?”. Banyak penyebab yang menjadikan pemimpin tdak menghasilkan knerja bagi organsasi yang dipimpin. Pertama, kemungkinan pemimpin tidak memahami kinerja yang diharapkan dari posisinya sebagai pemimpin. Kedua, kemungkinan pemimpin tidak memahami peran kepemimpinan (leadership) yang disandangnya. Ketiga, kemungkinan pemimpin tidak memiliki skill kepemimpinan yang diperlukan untuk menghasilkan kinerja organisasi. Keempat, kemungkinan pemimpin tidak memiliki semangat untuk memfokuskan dan mendorong usahanya dalam menghasilkan kinerja kepemimpinan.

Dari keempat kemungkinan tersebut diatas  yang dominan terjadi pada organisasi kesehatan khususnya di lingkungan Dinas Kesehatan pada kemungkinan kedua yaitu pemimpin tidak memahami peran kepemimpinan (leadership) yang disandangnya. Hal tersebut dikarenakan Pemimpin di lingkungan Dinas Kesehatan jarang melibatkan atau menganggap tidak perlu adanya masukan dari kelompok pendukung keputusan (disastion support), yaitu kelompok profesi kesehatan. Secara visual dalam kebijakan dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat (public good) dilakukan langsung oleh kelompok profesi kesehatan. Dengan kondisi tersebut maka tinggal kelompok profesi kesehatan yang mana bisa mengambil peluang secara cermat dan aktif untuk memberikan masukan berupa gagasan/ide yang pas dengan harapan pemimpin untuk menghasilkan kinerja organisasinya sehingga terbentuk budaya dan sistem pelayanan kesehatan dan dapat dirasakan oleh pelaku pelayan kesehatan dan masyarakat umumnya. Dari pengamatan  secara sepintas di beberapa Dinas Kesehatan Kabupaten, ternyata sangat signifikan bahwa tidak adanya masukan atas kebijakan dan perencanaan program pelayanan kesehataan daerah  yang berkaitan visi dan misi pelayanan keperawatan umumnya dan komunitas pada khususnya. Mengapa hal tersebut terjadi ? Jawaban yang jelas, kalangan Perawat kurang dan atau tidak tertarik dalam urusan kebijakan,  “ewuh pekewuh”, tidak level dan lan sebagainya.

Sebenarnya secara kajian mendalam kebijakan Pusat dan makro pelayanan kesehatan di daerah  peran Perawat  telah ada ruang  dan peluang dalam kebijakan kesehatan , walaupun hanya sebagai pendukung keputusan (disastion support). Untuk menuju ke impian yang sesuai dengan organisasi yang “Pas” dengan harapan maka perlu adanya pergeseran paradigma Perawat Komuntas dari pasif atau tak peduli menuju ke partisipasi aktif dalam pendesainan organisasi sistem pelayanan kesehatan baiik ditingkat Dinas Kesehatan maupun pada Unit Pelaksana Teknis (UPT). Dalam pergeseraan paradigma tersebut mengandung arti adanya perubahan secara radikal maupun tahapan (step by step)

  1. B. Pengelolaan Perubahan dan Faktor Pergeseran

“It is an inexorable law of the global marketplace that when your competitors, whereever they are, reengineering, you have little choice but to follow” Reengeneering adalah perubahan radikal sistem dan proses yang digunakan oleh organisasi untuk menghasilkan produk dan jasa. Menurut kata bijak tersebut bahwa bilamana pesaing melakukan perubahan menempatkan dirinya pada posisi kompetitif, yang tersisa bagi Anda tidak lain kecuali ikut melakukan perubahan radikal. Tapi umumnya orang tidak  atau enggan melakukan perubahan, meskipun lingkungan menuntut perubahan semacam itu, termasuk Perawat? Dan salah satu penyebab penting adalah ketidakmampuan  di dalam pengelolaan perubahanan. Perubahan sendiri pada seseorang harus ada pergeseran paradigma sehingga organisasi dapat menghasilkan perubahan yang  searah dengan kebijakan kesehatan dan berdayaguna. Jika Perawat Komunitas memiliki kompetensi memadai di era perubahan dan paradigmanya telah bergeser maka niscaya perubahan merupakan suatu perjalanan yang dapat di nikmatinya dan menyenangkan, sehingga sejawat Perawat  dalam mengisi pembangunan kesehatan daerah khususnya dan penciptaan kekayaan organisasinya (wealth creating organisation).

Dalam pergeseran paradigma dari organisasi Keperawatan tradisional menjadi organsasi yang tanpa batas (boundaryless organisation) dan pas sesuai cita-cita organisasi dalam sistem pelayanan kesehatan dibutuhkan ada 4 faktor yaitu :

  1. Kecepatan oragnisasi Komite Perawat Komunitas (KPK) dalam merespon perubahan kebutuhan sistem kesehatan.
  2. Fleksibilitas personel KPK dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan Dinas dan UPT DinKes, kemampuan belajar ketrampilan baru dan kesediaan untuk bergeser ke lokasi dan penugasan baru yang belum pernah dkenal.
  3. Keterpaduan organisasi tempat/unit kerja, organsasi profesi (PPNI) dan mitra organisasi profesi kesehatan lainnya dalam tim layanan kesehatan
  4. Kemampuan KPK untuk menghasilkan inovasi, kreatifitas dan proses layanan dalam memenuhi tuntutan jaman.
  1. C. Pergeseran Paradigma Organisasi Perawat

Ritzer dalam zamroni, membuat pengertian tentang paradigma yaitu pandangan yang mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang atau disiplin ilmu pengetahuan. Dari pengertian ini dapat disimpulkan, dalam suatu cabang ilmu pengetahuan dimungkinkan terdapat beberapa paradigma. Artinya dimungkinkan terdapatnya beberapa komunitas ilmuwan yang masing-masing berbeda titik pandangnya tentang apa yang menurutnya menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari dan diteliti oleh cabang ilmu pengetahuan tersebut. (Ahmad Sihabudin dalam Jurnal Kampus Tercinta, 1996 : 43).

Penjelasan paradigma fakta sosial berasal dari pendapat Durkheim. Fakta sosial dianggap sebagai barang sesuatu yang berbeda dengan ide yang menjadi obyek penyelidikan seluruh ilmu pengetahuan dan tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni. Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil di luar pemikiran manusia.

[/caption]Dengan definisi tersebut diatas maka dapat diambil maknanya, Paradigma adalah cara pandang seseorang yang mendasar apa yang menjadi persoalan yang semestinya dilakukan.

Demikian pula pada diri Perawat Komunitas sebagai profesi yang mulia, dalam menenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat atas layanannya , masyarakat juga telah menggeser teknologi yang dimanfaatkan, dari teknologi manual dan hard automation ke smart technology. Demikan pula sistem dan struktur organisasi jajaran kesehatan juga telah terjadi pergeseran dari pendekatan hirarky murni ke organisasi modifikasi hirarki dan cros fungsi dimana Struktur Organisasi dan Tatakerja Dinas Kesehatan terdapat kotak yang berisi Kelompok Jabatan Fungsional, hanya saja masing-masing pemimpin Dinas Kesehatan di daerah sulit atau bingung dalam aplikasinya, serta kelompok profesi/fungsional juga bermacam-macam penafsiran. Di Kabupaten Banyumas khususnya Dinas Kesehatan hal tersebut telah diaplikasikan secara konkret dengan desain yang pas dengan sistem pelayanan kesehatan terkini dengan nama Komite Perawat Komunitas (KPK). Yang menjadi pertanyaan adalah personel-personelnya sudah terjadi pergeseran paradigma atau belum. Hal tersebut penting untuk dikaji, karena mindsetnya berpuluh-puluh tahun telah dibuat untuk menjadi personel pekerja, penurut (follower) dan bukan sebagai pemikir, pembaharu maupun pendukung kebijakan.

Untuk membuat organisasi Komite Perawat Komunitas mempunyai peran dan di akui keberadaannya, khususnya personel organisasi KPK maka 7 hal pokok pergeseran paradigma organisasi, yatu :

  1. Destabilzer, Komite Perawat Komunitas harus bisa dipandang sebagai destabilzer. Pada hakekatnya organisasi “KPK” dibentuk untuk menciptakan perubahan, sehingga pandangan ini menuntut ketrampilan baru para pengurus KPK, sebagai tokoh perubah ( change agent) demikian pula mindsetnya “Pembaharu”.
  2. Shared competencies and resourse. Oragnisasi bukan merupakan satu rangkaian kotak-kotak fungsional, namun merupakan satu rangkaian  shared competencies and resourse yang tersedia untuk dimobilisasi guna memenuhi harapan masyarakat dan organsasi induk kesehatan (Dinas Kesehatan).
  3. Information era. Sekarang kita hidup di jaman teknologi informasi, sehingga memungkinkan KPK dan tempat bekerja melakukan informaton sharing, baik yang bersifat internal maupun eksternal.
  4. Trust-based relationship. Integrasi hanya terwujud dalam jangka panjang berlandaskan trust-based relationship, baik antarfungsi (melalui cross-functional team),  antara para pemimpin/pengurus dan anggotanya melalui pemberdayaan Perawat Komunitas atau lintas organisasi profesi kesehatan.
  5. Focused strategy. Organisasi KPK adalah kelompok Perawat komunitas yang dibentuk untuk tujuan khusus. Dengan demkian KPK hanya efektif jika dipusatkan untuk melaksanakan satu tugas. KPK adalah wadah yang strategis, oleh karena itu semakin spesifik tugasnya maka semakin tinggi kinerja yang dihasilkan.
  6. Wealth-creating organisation. KPK sebagai kelompok fungsional dibangun sebagai organisasi pencipta kekayaan (material maupun imateral), KPK melakukan kegiatan utama: (a) mendesain pendukung keputusan yang berkaitan dengan pelayanan keperawatan komunitas khususnya dan  kesehatan umumnya.  (2) membuat produk layanan keperawatan komunitas di Puskesmas atau UPT lainnya secara efektif. (3) menjual dan melaksanakan layanan keperawatan komunitas kepada masyarakat dan harus mampu memberikan kepuasan kepada semua pihak.
  7. System thinking. Organisasi KPK, Pengurus dan anggotanya adalah hakikatnya system thinking artinya tujuan sistem lebih utama bila dibandingkan tujuan fungsi. Keseluruhan lebih penting dibandingkan dengan bagian-bagian (kotak-kotak).
  1. D. Penyempurnaan Sistem Pelayanan Kesehatan

Dibangunnya Komite Perawat Komunitas Dinas Kesehatan untuk menyediakan forum komunikasi, koordinasi, dan partisipasi guna mencapai tujuan yang hanya dapat diwujudkan melalui usaha yang banyak melibatkan individu. KPK pada hakekatnya adalah sekelompok Perawat komunitas di Dinas Kesehatan dan UPT-nya yang memiliki ketergantungan satu sama lainnya, yang secara bersama-sama menfokuskan usaha mereka untuk mencapai tujuan tertentu atau menyelesaikan tugas tertentu.

Efektifitas KPK sebagai sarana untuk mewejudkan tujuan bersama sangat dtentukan oleh pendekatan yang dgunakan untuk mengorganisasikan sumber daya manusia didalam memanfaatkan berbagai sumberdaya lain. Pendekatan yang digunakan adalah (1) pendekatan fungsional hirarkhis (functional-hierarchical approach) dan (2) pendekatan kepemilikan sistem (system ownership approach).

  1. 1. Pendekatan Fungsional Hirarkhis

Jika seorang Kepala Dinas Kesehatan yang berasal dari dokter atau dokter gigi ditugasi oleh Bupati untuk menyusun organisasi Dinkes, umumnya secara otomatis ia akan menentukan fungsi-fungsi yang diperlukan untuk menjalankan program kegiatan dan jenjang organisasi DinKes. Bentuk organsasi yang dihasilkan dapat dipastikan berbentuk piramida, mengapa hasilnya seperti tersebut? Sudah menjad tradisi dan dikenal secara luas oleh masyarakat dan telah menunjukan keberhasilannya di masa lalu, orang memiliki kecenderungan membangun organisasi berdasarkan pendekatan fungsional. Dan Kepala Dinkes dalam menetukan personilnya mempunyai kecenderungan menempatkan orang-orang yang seprofesinya. Di era digital ini, masih sesuaikah pendekatan fungsional hirarkhis tersebut untuk menerobos daya hasil yang spektakuler? Tentu saja jawabannya berbeda-beda dan tergantung dari persepsi Pimpinan masing-masing. Pendekatan fungsional hirarkhis memandang organisasi sebagai mesin dan menggunakan metodologi analitik, sesuatu dapat dipahami dengan memecahnya ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan dilandasi keyakinan bahwa kinerja organisasi akan dapat dioptimalkan jika fungsi indvidu di optimalkan  dan bahwa keseluruhan dikelola melalui pengelolaan bagiannya. Kelemahanya terjadi pengendalian yang berlebihan, pertanggungjawabannya sempit, isolasi sosial, hambatan komunikasi dan kurangnya tangung jawab lintas fungsi. Pendekatan fungsional hirarkhis cenderung menghasilkan sikap personel lebih banyak berkomunikasi vertikal didalam fungsi masng-masing.

  1. 2. Pendekatan Kepemilikan Sistem.

Pendekatan ini menyadar adanya sistem lintas fungsional dan mendefinisikan peran dan tanggung jawab . Kepemilikan sistem ini dapat mengatasi banyak kelemahan organisasi hirarkhis. Oleh karena adanya saling ketergantungan didalam organisasi sebagai suatu sistem terbuka, sistem lintas fungsional akan dikelola dengan baik melalui sistem kepemilikan. Pendekatan  kepemilikan sistem terdiri dari  tiga (3) sistem, yatu : a) sistem lintas fungsional, b)  sistem berfokus pada pengguna/pelanggan, c) sistem berfokus ke produk.

  1. Sistem Lintas Fungsi

Sistem ini merupakan alternatif pengorganisasian sumber daya manusia didalam memanfaatkan sumber daya Komite untuk membuat produk dan jasa yang menghasilkan nilai (value) bagi pelanggan layanan Perawat di Puskesmas. Saat ini kendali dipegang oleh masyarakat pengguna kesehatan, sehingga pendekatanpun berfokus kepada kepuasan masyarakat dan akan menghasilkan manfaat yang signifikan dibandingkan dengan  fungsional hirarkhs.

  1. Sistem berfukus ke Pengguna/Pelanggan

Dalam pendekatan ini, personer Perawat dengan berbagai keterampilan mereka dikelompokkan ke dalam satu Tim untuk menjalankan sistem yang digunakan untuk memberikan layananPerawat Komunitas kepada Masyarakat tertentu, artinya layanan khusus misalnya Asuhan Keperawatan Keluarga denagn HIV dll. Sistem ini dapat mengatasi kompleksitas dengan meniadakan batas-batas antar fungsi.

  1. Sistem berfokus ke produk jasa keperatawatan

Pendekatan ini dapat memecahkan fungsi organsasi kedalam unit yang lebih kecil dan kedalam sistem yang lebih terkeloladengan fokus ke produk layanan Perawat Komunitas. Pendekatan ini merupakan terobosan mengkombinasikan sifat-sifat terbaik Perawat Komunitas yang memungkinkan akses, biaya, alat yang besar (investasi), misal melakukan riset yang berkaitan dengan wabah di daerah endemik dll.

Dengan pendekatan-pendekatan tersebut mana yang harus dipilih? Bahwa setiap pendekatan mengandung didalamnya kekuatan dan kelemahan. Kelemahan di satu pendekatan dapat diatasi dengan pendekatan lainnya yang pas pada kondisi yang dibutuhkan. Agar pendekatan-pendekatan tersebut diatas bisa diwujudkan maka inovas, kreatifitas dan pemikiran Perawat Komunitas dapat tersalurkan kepada pemegang kebijakan yaitu Kepala Dinas Kesehatan untuk masuk dalam perencanaan program maupun penentuan penanggung jawab kegiatan. Yang penting bahwa permasalahan layanan keperawatan komunitas dapat di pakai sebagai Pendukung Keputusan/Kebijakan (disastion support) yang hasilnya akan bermakna bagi Perawat Komunitas maupun masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: