KEBIDANAN

PUASA UNTUK IBU HAMIL DAN MENYUSUI
By: Haryati
Beribadah puasa (shaum) di bulan Ramadhan adalah wajib hukumnya bagi semua pemeluk agama Islam yang sudah akil baligh. Selama sebulan penuh umat Islam berpuasa, mulai adzan subuh berkumandang hingga waktu magrib tiba. Romadhon merupakan bulan tarbiyah (bulan pendidikan/penggemblengan), dimana dengan berpuasa diharapkan tidak hanya menghindarkan diri dari makan dan minum, namun secara bathiniah juga dapat mencegah dari sifat dan perbuatan tecela yang dapat mengurangi pahala berpuasa.
Dalam Alquran Allah SWT telah menyebutkan hukum dan ketentuan dalam berpuasa yang terdapat dalam Surah Al Baqarah (2) ayat 183-185.
“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS 2: 183)
“ (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. “ (QS 2:184)

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS 2:185)
Banyak orang menantikan datangnya bulan suci ini, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Karenanya, setiap orang tidak ingin melewatkan saat-saat untuk menjalankan ibadah puasa tersebut termasuk ibu hamil dan menyusui. Bagaimana puasa yang aman bagi ibu hamil dan menyusui? Jawaban dari pertanyaan di atas jelas tidaklah sama bagi ibu yang satu dengan lainnya. Ada ibu yang merasa yakin dirinya pasti kuat menjalani puasa walaupun sedang dalam keadaan hamil atau menyusui, dan merasa tidak bermasalah dengan keadaan fisik dirinya dan sang bayi sehingga dapat menjalani puasa dengan tenang. Namun di sisi lain, justru ada yang khawatir dengan kondisi sang janin misalnya para ibu yang memiliki buah hati yang lemah kondisi fisiknya dan masih sangat tergantung asupan makanannya dari sang ibu melalui air susu sang ibu. Demikian juga para ibu yang memiliki kondisi fisik yang lemah yang mengkhawatirkan keadaan dirinya jika harus terus berpuasa di bulan Ramadhan. Tentunya kedua kasus di atas tak ada yang salah, sebab hal itu tergantung dari keyakinan dan kondisi fisik masing-masing ibu yang pastinya berbeda.
Kondisi fisik seorang wanita dalam menghadapi kehamilan dan saat-saat menyusui memang berbeda-beda. Namun, pada dasarnya, kalori yang dibutuhkan untuk memberi asupan bagi sang buah hati adalah sama, yaitu sekitar 2200-2300 kalori perhari untuk ibu hamil dan 2200-2600 kalori perhari untuk ibu menyusui. Kondisi inilah yang menimbulkan konsekuensi yang berbeda bagi para ibu dalam menghadapi saat-saat puasa di bulan Ramadhan. Pada masa menyusui kalori yang dibutuhkan bukan berkurang malah harus bertambah 300-500 kalori jika dibanding ibu hamil ! Asupan kalori dalam bentuk makanan dan minuman berkaitan langsung dengan jumlah air susu ibu (ASI) yang keluar. Semakin banyak asupan kalori dan nutrisi maka akan semakin banyak dan bergizi ASI yang dihasilkan. Seringkali setelah menyusui timbul rasa lapar yang sangat, serta produksi ASI yang berkurang ketika kurangnya asupan nutrisi. Sehingga kecukupan kalori bagi ibu menyusu apalagi yang ingin berpuasa amatlah penting bagi keberhasilan menyusui.
Apabila dalam masa hamil dan menyusui seorang ibu merasa masih kuat berpuasa yang antara lain ditunjukkan dengan mendapatkan kenaikan berat badan (pertanda cukupnya asupan kalori) dan tidak ada hambatan pada kehamilan dan keluarnya ASI maka berpuasa lebih baik dilaksanakan dengan tidak memaksakan diri. Tubuh akan membunyikan “alarm” apabila terasa membahayakan bagi diri ibu maupun janin yang dikandungnya. Dan apabila terjadi demikian sebaiknya segera membatalkan puasa demi kemaslahatan diri dan janinnya.
Berpuasa tidaklah berarti mengurangi makan dan minum namun lebih berarti memindahkan jadwal makan. Secara medis apabila ibu hamil berpuasa ternyata tidak berdampak pada penurunan kesehatan bayi yang dilahirkan (berat badan bayi dan nilai APGAR yang menunjukkan kondisi kesehatan bayi saat lahir), tidak berdampak pada penurunan IQ bayi dan tidak secara bermakna berpengaruh terhadap kadar glukosa darah pada hamil muda (namun berpengaruh pada hamil tua). Penelitian yang pernah dilakukan di Nigeria pada ibu menyusui membuktikan bahwa tidak ditemukan penurunan jumlah air susu ketika berpuasa apabila ibu mengkonsumsi mengkonsumi lebih banyak air ketika buka dan sahur.
Kemudahan Puasa dalam Islam Untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
Wanita secara kodrati mengalami fase reproduksi dimana ia hamil dan menyusui. Lamanya hamil pada manusia selama 280 hari / 40 minggu (sering disebut juga selama 9 bulan dan 10 hari) dan menyusui minimal selama 6 bulan dan dapat hingga menyapihnya dalam 2 tahun.
Dalam menjalankan ibadah puasa agama Islam memberikan kemudahan pada wanita yang sedang mengandung dan menyusui untuk tidak berpuasa bila dirasakan berat dalam pelaksanaannya. Sebagai gantinya dapat dilakukan pada waktu lain (qadha) atau membayar fidyah (memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan sebanyak 1 sha’ atau 1,5 kg beras atau dapat diberikan dalam bentuk hidangan lengkap). Selain itu wanita dalam keadaan haid dan nifas (setelah melahirkan sampai 40 hari sesudahnya) tidak diperkenankan berpuasa hingga selesai masanya.
Allah SWT sangat memahami kesulitan yang dialami kaum muslimin dalam menjalankan ibadah puasa. Keringanan dan kemudahan telah diberikan bagi orang yang sedang sakit, atau dalam perjalanan, orang yang berat melakukannya (lansia, pekerja berat) dan secara khusus pada ibu hamil dan menyusui. Allah SWT tidak menghendaki kesulitan, Allah memberikan kemudahan dalam beribadah kepada-Nya.
Dalam hukum Islam sendiri, sebenarnya tersedia kelonggaran bagi ibu hamil atau yang menyusui untuk ‘libur’ puasa bila memang kondisinya tak memungkinkan. Hal ini dikhususkan bagi mereka yang harus mengonsumsi obat tertentu selama kehamilan, menderita sakit akut seperti diabetes, hipertensi, gangguan pencernaan, atau yang kondisi kehamilannya masih dalam tahap bulan-bulan krisis (kurang dari 5 bulan). Selain itu, untuk ibu yang bayinya sedang berada dalam tahap ASI eksklusif, yakni bayi masih berusia kurang dari 6 bulan, maka ibu memang disarankan untuk tidak berpuasa, sebab pada usia ini bayi tidak mendapat asupan makanan lain dan hanya mengandalkan ASI ibu saja.
Meski demikian, ada baiknya ibu yang ingin berpuasa berkonsultasi lebih dulu dengan dokter kandungan, ahli gizi atau bidan, sehingga bisa memberikan pertimbangan tentang siap-tidaknya kondisi ibu untuk menjalani puasa selama masa kehamilan/ menyusui. Bila setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ternyata kondisi anda memang memungkinkan untuk tetap berpuasa, maka anda dapat berpuasa dengan memperhatikan kiat-kiatnya. Berikut ini adalah beberapa kiat agar kondisi hamil dan kegiatan menyusui tak terganggu selama puasa.
Tips berpuasa pada ibu hamil dan menyusui
Bagi Ibu hamil dan menyusui yang ingin berpuasa maka perlu memperhatian hal-hal sebagai berikut:
• Konsultasikan kesehatan kehamilan Anda sebelum berpuasa pada dokter kandungan atau bidan anda
• Konsultasikan pula pola makan pada ahli gizi untuk memonitor cakupan gizi yang cukup. Buat catatan diet selama berpuasa
• Jangan memaksakan diri berpuasa, apalagi jika ibu hamil didiagnosa memiliki penyakit kronis atau yang dapat membahayakan kesehatan kehamilan dan janinnya.
• Perhatikan asupan makanan (diet) pada saat berpuasa, karena Anda perlu untuk memodifikasinya pada saat sahur, berbuka, dan mungkin sebelum tidur. Makan lebih banyak dengan porsi yang sedikit tapi sering .Tetap ikuti pola makan 3 kali sehari, yakni saat buka, menjelang tidur (atau setelah tarawih), dan sahur.
• Konsumsilah makanan yang terdiri dari karbohidrat, protein tinggi, lemak, serat tinggi, dan buah segar. Makanan yang dimakan harus seimbang, mengandung komponen dari masing-masing kelompok makanan yaitu buah, sayuran, daging/ayam/ikan, roti/sereal dan produk susu, jadi penting untuk memperhatikan keseimbangan dalam menu sahur.
• Tambahkan asupan vitamin C dan zinc untuk menjaga kondisi tubuh tetap fit
• Perbanyak konsumsi cairan dengan minum air atau jus buah antara waktu berbuka hingga sahur.
• Untuk menu berbuka, makanlah makanan yang manis, namun hindari konsumsi berlebihan. Selain itu, sebaiknya makanan yang dikonsumsi berada dalam kondisi hangat sebab perut kosong dan hamil biasanya sensitif akan makanan dingin. Minuman hangat juga bisa merangsang kelancaran produksi ASI
• Pilihlah makanan yang lambat dicerna yang mengandung karbohidrat kompleks (mengandung padi-padian dan biji-bijian seperti gandum, buncis, kacang, tepung biji gandum, nasi putih, sereal)
• Konsumsi sayuran dan buah (karena mengandung banyak serat) pada saat sahur. Ini juga akan membantu memperpanjang rasa kenyang. Kurma adalah sumber yang sangat baik untuk gula, serat, karbohidrat, kalium dan magnesium.
• Perbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi. Boleh menambah variasi menu minuman dengan jus buah, teh, dan susu. Segelas susu bisa membantu mengatasi anemia pada ibu hamil dan menyusui
• Olahraga tetap perlu. Meski berpuasa, hal ini tak berarti ibu hamil/ menyusui hanya boleh duduk diam dan bermalas-malasan saja. Ibu tetap perlu bergerak dan beraktivitas, misalnya jalan kaki ringan untuk sekedar melemaskan otot kaki dan punggung, serta melancarkan sirkulasi darah. Jika ibu mau, ibu tetap bisa melakukan aktivitas senam hamil sesuai dengan aturan yang telah diberikan pihak ahli.
• Bila anda tiba-tiba merasa lelah saat menyusui, tidak usah cemas, hal itu adalah wajar, jadi usahakan untuk beristirahat sejenak. Yakinlah dengan semakin sering payudara dihisap oleh bayi, maka akan semakin banyak ASI yang dihasilkan. Tidur siang juga perlu dan dapat membantu mengatasi masalah kelelahan tersebut (kurang lebih 1 jam sudah cukup ).
• Hal terakhir yang tak kalah pentingnya adalah menyiapkan batin. Kalau ibu memang berniat untuk puasa, maka jauhkanlah segala pikiran buruk tentang kondisi ibu dan bayi, dan putuskan untuk menjalani puasa dengan tekad bulat. Sebab bila tak diatasi, kecemasan ibu malah justru bisa mempengaruhi kerja hormon oksitosin sehingga menghambat produksi ASI.
Makanan dan minuman yang dihindari
• Hindari makanan yang terlalu manis, karena Anda akan cepat merasa lapar.
• Hindari makanan yang digoreng dan makanan yang berlemak
• Hindari makanan pedas
• Hindari minum softdrink
• Hindari terlalu banyak teh selama sahur. Teh berperan dalam pengeluaran lebih banyak urin yang turut membawa garam-garam mineral bermanfaat yang akan dibutuhkan tubuh sepanjang hari puasa.
• Hindari konsumsi kopi dan rokok
Catatan:
1. Untuk ibu bekerja yang biasa memerah ASI, maka tak perlu menghentikan kegiatan tersebut. Sebab justru jika dihentikan, maka produksi ASI malah jadi berkurang/ terhambat.
2. Bila selama berpuasa, timbul hal-hal yang tak biasa pada ibu atau bayi itu sendiri, maka segera temui dokter. Ada beberapa kasus di mana, saat seorang ibu berpuasa, ASI-nya menjadi lebih encer sehingga mengakibatkan anak diare. Atau, ibu ternyata mengalami hipoglikemia (turunnya kadar gula dalam darah) yang biasanya ditandai dengan timbulnya pusing, mual, demam, dan badan gemetaran. Segera temui dokter untuk memastikan aman-tidaknya puasa yang dijalani.
3. Perhatikan gejala dan keluhan selama berpuasa
• Keluar keringat berlebihan, badan lemah, kurang energi, pusing, khususnya saat berdiri dari posisi duduk, penampilan pucat dan merasa lesu adalah tanda “tekanan darah rendah”
• Badan lemah, pusing, capek, sulit berkonsentrasi, mudah berkeringat, tremor, tidak mampu melakukan aktivitas fisik, sakit kepala, dan palpitasi (denyut jantung yang cepat dan tidak beraturan) adalah gejala-gejala rendahnya kadar gula darah.
• Jika urin terlalu gelap (kecoklatan) dan berbau menyengat, merupakan tanda terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan).
• Apabila gerakan janin berkurang (normalnya selama 12 jam terdapat minimal 10 kali gerakan) .

Antara Qadha dan Fidyah Bagi Ibu Hamil dan Menyusui
Ada beberapa pendapat mengenai Qadha dan Fidyah sebagai pengganti puasa untuk ibu hamil dan menyusui, diantaranya :
1. Jika wanita hamil itu takut akan keselamatan kandungannya, ia boleh berbuka. Apabila kekhawatiran ini terbukti dengan pemeriksaan secara medis dari dua dokter yang terpercaya , maka hukum berbuka bahkan menjadi wajib, demi keselamatan janin yang ada dalam kandungan.
2. Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan kesehatan dirinya, bukan kesehatan anak atau janin, mayoritas ulama membolehkan mengqodho’ puasanya. Dalam kondisi seperti ini, ia diqiyaskan seperti orang sakit.
3. Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan keselamatan janin Atau anaknya, ia boleh berbuka. Setelah itu apakah ia wajib mengqodho’ atau membayar fidyah? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini:
a. Ibnu Umar dan Abbas membolehkan hanya dengan membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan.
b. Mayoritas ulama hanya mewajibkan mengqodho’ puasa.
c. Sebagian yang lain mewajibkan kedua-duanya, puasa dan qodho’ D. Dr. Yusuf Qordhowi dalam fatwa Mu’ashirahnya mengatakan bahwa ia cenderung kepada pendapat yang mengatakan cukup dengan membayar fidyah(memberi makan orang miskin setiap hari), jika wanita yang bersangkutan tidak henti-hentinya hamil dan menyusui. Artinya tahun ini hamil, tahun berikutnya menyusui dan seterusnya, sehingga ia tidak mendapatkan kesehatan untuk mengqodho’ puasanya. Lanjut Dr. Yusuf Qordhowi, apabila kita membebani wanita tersebut dengan juga mengqodho’ puasa yang tertinggal, berarti ia harus berarti ia harus berpuasa beberapa tahun berturut-turut setelah itu, dan itu sangat memberatkan, sedangkan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya.
Kondisi fisik seorang wanita dalam menghadapi kehamilan dan saat-saat menyusui memang berbeda-beda. Namun, pada dasarnya, kalori yang dibutuhkan untuk memberi asupan bagi sang buah hati adalah sama, yaitu sekitar 2200-2300 kalori perhari untuk ibu hamil dan 2200-2600 kalori perhari untuk ibu menyusui. Kondisi inilah yang menimbulkan konsekuensi yang berbeda bagi para ibu dalam menghadapi saat-saat puasa di bulan Ramadhan. Ada yang merasa tidak bermasalah dengan keadaan fisik dirinya dan sang bayi sehingga dapat menjalani puasa dengan tenang. Ada pula para ibu yang memiliki kondisi fisik yang lemah yang mengkhawatirkan keadaan dirinya jika harus terus berpuasa di bulan Ramadhan begitu pula para ibu yang memiliki buah hati yang lemah kondisi fisiknya dan masih sangat tergantung asupan makanannya dari sang ibu melalui air susu sang ibu.
Kedua kondisi terakhir, memiliki konsekuuensi hukum yang berbeda bentuk pembayarannya.
1. Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya Saja Bila Berpuasa
Bagi ibu, untuk keadaan ini maka wajib untuk mengqadha (tanpa fidyah) di hari yang lain ketika telah sanggup berpuasa.
Keadaan ini disamakan dengan orang yang sedang sakit dan mengkhawatirkan keadaan dirinya. Sebagaimana dalam ayat,
“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Qs. Al Baqarah[2]:184)
Berkaitan dengan masalah ini, Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Kami tidak mengetahui ada perselisihan di antara ahli ilmu dalam masalah ini, karena keduanya seperti orang sakit yang takut akan kesehatan dirinya.” (al-Mughni: 4/394)
2. Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya dan Buah Hati Bila Berpuasa
Sebagaimana keadaan pertama, sang ibu dalam keadaan ini wajib mengqadha (saja) sebanyak hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika sang ibu telah sanggup melaksanakannya.
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang hamil dan menyusui, apabila keduanya khawatir dengan puasanya dapat membahayakan dirinya, maka dia berbuka dan mengqadha. Tidak ada fidyah karena dia seperti orang yang sakit dan semua ini tidak ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah). Apabila orang yang hamil dan menyusui khawatir dengan puasanya akan membahayakan dirinya dan anaknya, maka sedemikian pula (hendaklah) dia berbuka dan mengqadha, tanpa ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah).’” (al-Majmu’: 6/177, dinukil dari majalah Al Furqon)
3 .Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan si Buah Hati saja
Dalam keadaan ini, sebenarnya sang ibu mampu untuk berpuasa. Oleh karena itulah, kekhawatiran bahwa jika sang ibu berpuasa akan membahayakan si buah hati bukan berdasarkan perkiraan yang lemah, namun telah ada dugaan kuat akan membahayakan atau telah terbukti berdasarkan percobaan bahwa puasa sang ibu akan membahayakan. Patokan lainnya bisa berdasarkan diagnosa dokter terpercaya – bahwa puasa bisa membahayakan anaknya seperti kurang akal atau sakit -. (Al Furqon, edisi 1 tahun 8)
Untuk kondisi ketiga ini, ulama berbeda pendapat tentang proses pembayaran puasa sang ibu. Berikut sedikit paparan tentang perbedaan pendapat tersebut.
Dalil ulama yang mewajibkan sang ibu untuk membayar qadha saja.
Dalil yang digunakan adalah sama sebagaimana kondisi pertama dan kedua, yakni sang wanita hamil atau menyusui ini disamakan statusnya sebagaimana orang sakit. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Bin Baz dan Syaikh As-Sa’di rahimahumallah
Dalil ulama yang mewajibkan sang Ibu untuk membayar fidyah saja.
Dalill yang digunakan adalah sama sebagaimana dalil para ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah, yaitu perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” ( HR. Abu Dawud)
dan perkataan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang seorang wanita hamil yang mengkhawatirkan anaknya, maka beliau berkata, “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin.” (al-Baihaqi dalam Sunan dari jalan Imam Syafi’i, sanadnya shahih)
Dan ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil bahwa wanita hamil dan menyusui hanyaf membayar fidyah adalah, “Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar diyah (yaitu) membayar makan satu orang miskin.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 184)
Hal ini disebabkan wanita hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan anaknya dianggap sebagai orang yang tercakup dalam ayat ini.
Pendapat ini adalah termasuk pendapat yang dipilih Syaikh Salim dan Syaikh Ali Hasan hafidzahullah.
Dalil ulama yang mewajibkan sang Ibu untuk mengqadha dengan disertai membayar fidyah
Dalil sang ibu wajib mengqadha adalah sebagaimana dalil pada kondisi pertama dan kedua, yaitu wajibnya bagi orang yang tidak berpuasa untuk mengqadha di hari lain ketika telah memiliki kemampuan. Para ulama berpendapat tetap wajibnya mengqadha puasa ini karena tidak ada dalam syari’at yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu mengerjakannya.
Sedangkan dalil pembayaran fidyah adalah para ibu pada kondisi ketiga ini termasuk dalam keumuman ayat berikut,
“…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin…” (Qs. Al-Baqarah [2]:184)
Hal ini juga dikuatkan oleh perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Irwa’ul Ghalil). Begitu pula jawaban Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya, beliau menjawab, “Hendaklah berbuka dan memberi makan seorang miskin setiap hari yang ditinggalkan.”
Adapun perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma yang hanya menyatakan untuk berbuka tanpa menyebutkan wajib mengqadha karena hal tersebut (mengqadha) sudah lazim dilakukan ketika seseorang berbuka saat Ramadhan.
Demikian pembahasan tentang qadha dan fidyah yang dapat kami bawakan. Semoga dapat menjadi landasan bagi kita untuk beramal. Adapun ketika ada perbedaan pendapat dikalangan ulama, maka ketika saudari kita menjalankan salah satu pendapat ulama tersebut dan berbeda dengan pendapat yang kita pilih, kita tidak berhak memaksakan atau menganggap saudari kita tersebut melakukan suatu kesalahan.
Semoga Allah memberikan kesabaran dan kekuatan bagi para Ibu untuk tetap melaksanakan puasa ataupun ketika membayar puasa dan membayar fidyah tersebut di hari-hari lain sambil merawat para buah hati tercinta. Wallahu a’alam.

2 Tanggapan to “KEBIDANAN”

  1. kapan akan diadakan pendaftaran ptt bidan desa untuk wil. kabupaten banyumas? trim

  2. oke… nice info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: